Minggu, 19 Februari 2017

Refleksi Diri pertemuan Senin, 13 Februari 2017

            

           Pada Hari Senin, 13 Februari 2017 saya mengikuti pembelajaran Belajar dan Pembelajaran dengan materi Teori Belajar Kognitif, dimana  Teori kognitif dan behavioristik memiliki perbedaan pastinya, yaitu jika teori behavioristik mengedepankan mental atau aspek kejiwaan peserta didik, sedangkan teori kognitif lebih mengedepankan ke proses dan hasilnya. Banyak tambahan ilmu yang saya dapatkan di pertemuan hari itu, antara lain sebagai berikut.          
Menurut teori kognitif terdapat 3 macam pengetahuan yaitu, Jenis pengetahuan deklaratif, procedural, dan kondisional. Maksud dari jenis pengetahuan kondisional adalah tentang penggunaan dan kapan menggunakannya. Akan tetapi maksud dari jenis pengetahuan lainnya saya belum mengerti karena keterbatasan waktu dalam bertanya maupun presentator dalam menjelaskan. Selain itu, seorang anak atau peserta didik dalam memahami dunianya memiliki beberapa tahapan yaitu.
1.    Tahap sensori-motor
2.    Tahap pre-operasional
3.    Tahap concrete-operasional
4.    Tahap formal-operasional
v  Ahli Gestalt menyatakan mengenai implementasi belajar sebagai berikut
a.    Insight, pengamalaman tilikan = kemampuan untuk mengetahui unsure unsure suatu peristiwa
b.    Meaningful learning = pembelajaran bermakna, mengaitkan masalah yang ada di ingkungan kita
c.    purposive behaviour = mengetahui tujuan yang kita pelajari
d.   life space = prinsip ruang hidup, adanya kemampuan yang sudah kita tahu dengan lingkungan di sekitar kita.
e.    Transfer= mengenerilasiskan, apa yang sudah kita tahu terhadap apa yang akan kita temui
v  Ahli Ausubel menguraikan tentang pengaturan kemajuan dalam belajar. Adanaya perkembangan intelektual juga mental. Tipe belajar menurut Ausubel sebagai berikut.
1.    Belajar dengan penemuan yang bermakna
2.    belajar dengan ceramah yang bermakna
3.    belajar dengan penemuan yang tidak bermakna
4.    Belajar dengan ceramah yang tidak bermakna
v  Ahli jean piaget, memaparkan tentang perkembangan intelektual/ mental. Paling menonjol di kognitif adalah perubahan mental.
1.    Tahap sensori motor, umur nol-2 th
2.    pre-operational, mulai adanya ranah kognitif dengan menggunakan symbol atau lambing, Anak umur 2-7 tahun
3.    concrete-operational, sudah dapat berpikir logis karena bias mengamati kondisi mereka, 7-11.
4.    formal-operational, sudah mulai abstark, umur 11-keatas
Prinsip teori kognitif adalah belajar aktif dengan maksud lebih aktif dari gurunya, pemahaman dari yang diketahui, siswa memahai dari apa yang dia ketahui beda dengan guru yang membaca baru menyampaikan dengan yang dia ketahui. Selain prinsip, teori kognitif juga memiliki kelebihan yaitu, Siswa diberi keleluasaan dalam belajar. Membantu siswa memahami belajara dengan lebih mudah karena dengan cara sendiri serasa belajar menjadi menyenanngkan, dapat menguatkan ingatan, seseorang pendidik lebih mengenali siswa dalam perkembanagn siswa. Jika ada kelebihan juga pastinya ada kekurangan, teori kognitif ini memiliki kekuranagn seperti menggap bahwa kemampuan peserta didik itu sama, peserta didik tidak mengetahui dan mengerti materi sepenuhnya.
            Pesan-pesan yang saya dapatkan yang dapat menjadi bekal kelak saya menjadi seorang guru baik sebagi profesi juga kewajiban adalah sebagai berikut.
  1. guru harus memberikan penilaian yang seimbang, proses dan hasil itu sama-sama penting, karena hasil mencerminkan kemampuan.
  2. Proses belajar juga sebagai discovering. Memorising is not learning, belajar itu memaknai bukan menghafal.
  3. Membuat peta konsep termasuk fase advance organizer yaiut memudahkan cara kita belajar.
  4. Belajar dengan penemuan itu bermakna, tetapi tidak menjadi tidak baik jika disusun dengan tidak baik.
  5. Yang bermakna bukanlah hafalannya, tetapi fase berikutnya yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan.
  6. Kondisian perilaku, adalah pengkondisian dengan tujuan belajar, missal akan belajar tentang struktur bunga, makan perlu dikenalkan terlebih dahulu tentang struktur bunga.
  7. Perubahan mental, tujuan belajar tidak hanya memperoleh ilmu yang baru tetapi juga memperoleh akhlak yang baik
  8. Walaupun guru memberikan kebebasan dalam cara belajar, namun pendidik seharusnya tetepa mengontrol dan membenarkan teori-teori yang kutang tepat









Sabtu, 11 Februari 2017

TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN


Nama : Anis Suhartatik
NIM  : 150341600910
Offerinh: B



TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN PENERAPANNYA DALAM PEMBELAJARAN

     

         Setelah mempelajari teori belajar Behavioristik, sekarang saatnya mempelajari teori Kognitif. Berbeda dengan teori Behavioristik yang megedepankan stimulus dan respon, sedangkan teori belajar behavioristik yang lebih mengedepankan proses belajar daripada hasilnya. Model belajar kognitif mengatakan bahwa tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Teori kognitif juga merupakan perubahan pemahaman, dimana tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur.
            Rumusan-rumusan dari para ahli yang mencangkup teori belajar kognitif menurut Asri (2012) sebagai berikut.
1.   Teori Perkembangan Piaget.
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik yaitu  suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan system syaraf. Dengan makin bertembahnya umur seseorang maka semakin kompleks susunan saraf dan meningkat pula kemampuannya.
Menurut Jean Piaget, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu :
a.       Asimilasi  yaitu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa), dengan prinsip perkalian (sebagai informasi baru) itu yang disebut asimilasi.
b.      Akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi. 
c.       Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara “dunia dalam” dan “dunia luar.
Piaget juga membagi tahap-tahapa perkembangan kognitif ini menjadi empat yaitu :
1)      Tahap sensori motorik (0-2 tahun)
Pada tahap ini anak mengatur sensorinya (inderanya) dan tindakan-tindakannya. Pada awal periode anak belum dapat mengenal dan menemukan objek, benda apapun yang tidak dilihat, tidak disentuh atau tidak didengar. Benda-benda tersebut dianggap tidak  ada meskipun sesungguhnya ada di tempat lain.
2)      Tahap Praoperasional (2-7 tahun)
Anak sudah dapat memahami objek-objek secara sempurna, sudah dapat mencari benda yang dibutuhkannya walaupun ia tidak melihatnya. Sudah memiliki kemampuan berbahasa tetapi masih menggunakan kata-kata pendek.
3)      Tahap Operasional Konkret (7-11 tahun)
Anak sudah mulai melakukan operasi dan berpikir rasional, mampu mengambil keputusan secara logis yang bersifat konkret, mampu mepertimbangkan dua aspek misalnya bentuk dan ukuran.
4)      Tahap Operasional Formal (11-15 tahun)
Remaja tidak lagi terbatas pada pengalaman konkret aktual sebagai dasar pemikiran. Mereka dapat membangkitkan situasi-situasi khayalan, kemungkinan-kemungkinan hipotetis, atau dalil-dalil dan penalaran yang benar-benar abstrak.
2.      Teori Belajar Menurut Bruner.
Dalam memandang proses belajar, bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Menurut bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:
a. Tahap inaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam memahami lingkungan sekitarnya. Dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan motoriknya., seperti melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya.
b. Tahap ikomik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar visualisasi verbal. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk perumpamaan dan perbandingan.
c. Tahap simboik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh kemampuannya dalam berbahasa dan berlogika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui symbol-simbol bahasa, logika, mataematika, dan sebagainya..
3. Teori Belajar bermakna Ausubel.
Menurut Ausubel, belajar seharusnya merupakan asimilasi yang bermakna bagi siswa. Materi yang dipelajari diasimilasikan dan dihubungkan dengan pengtahuan yang telah dimiliki siswa dalam bentuk strukur kognitif. Teori ini banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
Hakikat belajar menurut teori kognitif merupakan suatu aktivitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perceptual, dan proses internal. Atau dengan kata lain, belajar merupakan persepsi dan pemahaman, yang tidak selalu berbentuk tingkah laku yang dapat diamati atau diukur. Dengan asumsi bahwa setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang telah tertata dalam bentuk struktur kognitif yang dimilkinya. Proses belajar akan berjalan dengan baik jika materi pelajaran atau informasi baru beradaptasi dengan struktur kognitif tang telah dimiliki seseorang. Beberapa Prinsip Teori Ausubel adalah.
1)  Proses belajar akan terjadi jika seseorang mampu mengasimilasikan pengetahuan yang tlah dimilikinya dengan pengetahuan baru
2) Proses belajar akan terjadi melalui tahap-tahap memperhatikan stimulus, memamahi makna stimulus, menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami
3) Siswa lebih ditekankan unuk berpikir secara deduktik  (konsep advance organizer)
Teori belajar Ausubel yang dipaparkan oleh Budiningsih (2012) dibahas di bawah ini.
a) Struktur kognitif
Merupakan struktur organisasional yang ada dalam ingatan seseorang yang mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah ke dalam suatu unit konseptual. Teori kognitif banyak memusatkan perhatiannya pada konsepsi bahwa perolehan dan retensi pengetahuan baru merupakan fungsi dari struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
b) Subsumtive sequence
Dikatakan bahwa pengetahuan diorganisasi dalam ingatan seseorang dalam struktur hirarkhis. Ini berarti bahwa pengetahuan yang lebih umum, inclusif, dan abstrak membawahi pengetahuan yang lebih spesifik dan konkret. Demikian juga pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh seseorang, akan dapat memudahkan perolehan pengetahuan baru yang lebih rinci. Gagasannya mengenai cara mengurutkan materi pelajaran dari umum ke khusus, dari keseluruhan ke rinci yang sering disebut sebagai subsumtive sequence menjadikan belajar lebih bermakna bagi siswa.
c) Advance organizers
Dikembangkan oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Penggunaan advance organizers sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru,  karena merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi atau ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam struktur kogntif siswa. Jika ditata dengan baik, advanced organizers akanmemudahkan siswa mempelajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajarnya.
d) Skemata
Berdasarkan pada konsepsi organisasi kognitif seperti yang dikemukakan oleh Ausubel tersebut, dikembangkanlah oleh para pakar teori kognitif suatu model yang lebih eksplisit yang disebut dengan skemata. Sebagai struktur organisasional, skemata berfungsi untuk mengintegrasikan unsur-unsur pengetahuan yang terpisah-pisah, atau sebagai tempat mengaitkan pengetahuan baru.
Adapun aplikasi teori kognitif dalam pembelajaran menurut Harahap (2001):
  1. Keterlibatan siswa secara aktif amat dipentingkan
  2. Untuk meningkatkan minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengaitkan pengetahuan baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa.
  3. Materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu dari sederhana ke kompleks.
  4. Perbedaan individu pada siswa perlu diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar.
  5. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berfikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
  6. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik terutama jika mendengarkan benda-benda kongrit.
  7.  Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena hanya dengan mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
  8. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan struktur kognitif yang telah memiliki si belajar.
  9.  Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
  10. Belajar memahami akan lebih bermakna daripada belajar mneghafal.
  11.  Adanya perbedaan individual pada diri siswa pelu diperhatikan karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal dan sebagainya.

DAFTAR RUJUKAN
Asri Budiningsih, C. 2012. Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.          
Budiningsih, C.Asri. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta

Harahap. 2001. Teori Belajar Kognitif. (Online), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ pendidikan/), diakses 11 Februari 2017

Jumat, 10 Februari 2017

Redleksi Diri ke-4 Rabu, 8 Februari 2017

            Pada hari Rabu, 8 Februari 2016 saya kembali mengikuti dan belajar mata kuliah Belajar dan pembelajaran topik Teori Belajar Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Dari pertemuan saya mendapatkan tabahan ilmu seperti yang saya paparkan di bawah ini.
Dalam teori behavioristik yang diukur hanya yang bisa di amati dan yang dapat diukur secara konkret. Teori yang menitik menganalogikan otak manusia seperti computer, ada penerima, pemrosesan, penyimanan, dan termasuk responya. Dalam teori ini otak memiliki 2 bagian yaitu memory jangan pendek dan jangka panjang. Jangka pendek, memori dapat masuk tetapi tidak disimpan karena sekedar hafalan, untuk masuk ke memori jangka panjang harus diolah terlebih dahulu, kemudian harus masuk di dalam perangkap pemahaman. Informasi baru dapat memperkaya kerangka konsepnya.
Dalam menentukan sesuatu harus ada evaluasi, sebelumnya ada analisis. Belajar  tidak sekedar membaca , menulis, dan menghafal, tetapi yang benar belajar itu membangun cara berpikir.
Kemudian level hasil menunjukan kompleksitas berpikir. Dengan itu saya menjadi dapat lebih baik dalam melakukan hal belajar, tetapi saya belum paham mengenai level hasil belejar, apa yang dimaksud dengan level belajar. Di dalam belajar juga terdapat komponen stimulus dan respon, dimana  Stimulus adalah semua hal yang diberikan oleh seorang guru dan Respon hasil dari stimulus yang ditunjukan oleh siswa.
            Prinsip dalam teori behavioristik salah satunya adalah memberi hukuman atau pujian. Akan tetapi prinsip di teori ini sekarang tidak dapat diberlakukan, seperti guru member hukuman kepada siswa yang nantinya akan dikaitkan dengan pasal-pasal hukum yang berlaku. Akan tetapi menururt saya seharusnya pihak hukum ketika akan memberi sanksi kepada guru yang memeberi kekerasan harus melihat dengan cermat latar belakang belakang. Begitu juga dengan guru jika memberi punishment jangan keburu dengan cara kekerasa, maksudnya apabila masih dapat ditegur dengan baik, kenapa harus menggunakan kekerasan yang akan menimbulkan kerugian sesame.
            Pesan terakhir yang saya tangkap adalah Nilai dijadikan sebagai dampak jangan dijadikan tujuan, seperti masuk surga jangan dijadikan tujuan tetapi dampak. J J J
                                                                                      











Selasa, 07 Februari 2017

REFLEKSI DIRI HARI SENIN, 6 FEBRUARI 2016

            

        Pada perkuliahan hari Senin, 6 Februari 2016 mempelajari tentang Hakikat, cirri belajar dan pembelajaran.  Dari hasil diskusi yang telah saya dapatkan adalah sebagai berikut.
            Pembelajaran adalah suatu tindakan yang dapat mengembangkan moral, intelektual, dan dapat merubah sikap menjadi tahu dan tidak tahu. Awalnya saya berpikir bahwa pembelajaran dan belajar itu sama, tetapi nyatanya itu hal yang berbeda namun saling berkaitan. Di dalam pembelajran  ada sebuah tujuan, ada pendidik sebagai fasilitator, adanya materi, dan adanya proses, adanya aturan untuk menjaga ketertiban selama proses. Adanya evaluasi untuk mengetahui seberapa banyak peserta didik memhami konsep.
            Sebelumnya saya masih sangat bingung mengenai teori deskriptif dan prespektif. Setelah mengikuti perkuliahan di hari itu saya menjadi lebih mengerti bahwa deskriptif lebih menuju ke hasilnya sedangkan prespektif lebih ke metodenya. Masing-masing teori tersebut memliki kelemahan dan kelebihan. Deskripstif, lebih terkonsep, dapat mendorong siswa untuk mencari ilmu penegtahuan sedalam-dalamnya, namun kurang lebih memhami psikologi peserta didik dalam memahmi suatu materi. Sedangkan Prespektif, lebih sistematis, memiliki arah dan tujuan yang jelas, namun kurang, membutuhkan waktu yang cukup lama. Prespeketif harus sesuai dengan rencana pembelajaran, deskriptif dapat mencari sumber belajar dengan sendirinya, sehingga prosesnya cepat.
belajar adalah harus ada seuatu belajar, teori belajar menjalaskan bagaimana seseorang dalam melakukan belajar. Pembalajaran (teaching), bagaimana seseorang itu belajar, pembelajaran termasuk teori preskriptif, harus ada desain yang dilihat dari tujuan belajar. Dirancang sehingga memberi pembatasan, sehingga tidak berkembang kreatifitasnya, apalagi jka metodenya salah. Presprektif penting, tetapi harus dijalani dengan perumusan tujuan pembelajaran yang baik, dengan ketrampilan berpikir yang tinggi.
Belajar (learning) termasuk teori deskriptif, melihatnya dari memberikan kesempatan orang untuk belajar. Mengarah lebih ke memberi kebebasan dan memfasilitasi sumber belajar yang beraneka ragam. Tidak harus dirancang, sehingga dapat belajar dari banyak hal seperti pengalaman . tidak terperogam sehingga memperoleh pemahaman lebih banyak. Simplenya dengan metode yang ini apa yang terjadi dengan siswa.
Dari pertemuan di hari itu hikmah yang dapat saya ambil adalah saya dapat belajar menjadi guru yang baik, cerdas, dan cermat. Hal tersebut karena pada materi pembelajaran hari itu membahas mengenai macam-macam teori belajar yang kelak dapat saya aplikasikan jika sudah menjadi seorang pengajar. Untuk saat ini saya juga sudah dapat menerapkan teori-teori tersebut, karena melakukan pembelajaran tidak harus memiliki profesi tetep seorang guru.


Minggu, 05 Februari 2017

Teori Belajar Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori Belajar Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran
Oleh: Anis Suhartatik

Kajian kali ini membahas mengenai teori belajar behavioristik dan penerapannya dalam pembelajaran. Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya kita mengenal terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan teori belajar behavioristik. Menurut Andriyani (2015) makna Behavior adalah tingkah laku baik yang dilakukan oleh suatu organisme dengan lingkungan. Jadi Teori belajar behavioristik adalah sebuah aliran dalam teori belajar yang sangat menekankan pada perlunya tingkah laku (behavior) yang dapat diamati. Menurut aliran behavioristik, belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap panca indera dengan kecenderungan untuk bertindak atau hubungan antara Stimulus dan Respons.
Belajar menurut psikologi behavioristik adalah suatu kontrol instrumental yang berasal dari lingkungan. Belajar tidaknya seseorang bergantung pada faktor-faktor kondisional yang diberikan lingkungan.11 Teori belajar tingkah laku atau behavioristik didirikan dan dianut oleh beberapa ilmuwan, diantaranya adalah Ivan Pavlov, Thorndike, Watson, dan Skinner (Andriyani, 2015).
Berikut adalah penjelasan mengenai pandangan para Ahli mengenai teori belajar Behavioristik menurut Hardianto (2015).
1.      Teori Belajar Menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu apa saja yang dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Dari definisi belajar tersebut maka menurut Thorndike perubahan tingkah laku akibat dari kegiatan belajar itu dapat berujud kongkrit yaitu yang dapat diamati, atau tidak kongkrit yaitu yang tidak dapat diamati. Meskipun aliran behaviorisme sangat mengutamakan pengukuran, namun ia tidak dapat menjelaskan bagaimana cara mengukur tingkah laku-tingkah laku yang tidak dapat diamati. Namun demikian, teorinya telah banyak memberikan pemikiran dan inspirasi kepada tokoh-tokoh lain yang datang kemudian. Teori Thorndike ini disebut juga sebagai aliran Koneksionisme (Connectionism).
2.      Teori Belajar Menurut Watson
Watson adalah seorang tokoh aliran behavioristik yang datang sesudah Thorndike. Menurutnya, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus berbentuk tingkah laku yang dapat diamati (observabel) dan dapat diukur. Dengan kata lain, walaupun ia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun ia menganggap hal-hal tersebut sebagai faktor yang tak perlu diperhitungkan. Ia tetap mengakui bahwa perubahan-perubahan mental dalam benak siswa itu penting, namun semua itu tidak dapat menjelaskan apakah seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati.
3.      Teori Belajar Menurut Clark Hull
Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengrtian tentang belajar. Namun ia sangat terpengaruh oleh teori evolusi yang dikembangkan oleh Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu, teori Hull mengatakan bahwa kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat bermacam-macam bentuknya. Dalam kenyataannya, teori-teori demikian tidak banyak digunakan dalam kehidupan praktis, terutama setelah Skinner memperkenalkan teorinya. Namun teori ini masih sering dipergunakan dalam berbagai eksperimen di laboratorium.
4.      Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie
Demikian juga dengan Edwin Guthrie, ia juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Namun ia mengemukakan bahwa stimulus tidak harus berhubungan dengan kebutuhan atau pemuasan biologis sebagaimana yang dijelaskan oleh Clark dan Hull. Dijelaskannya bahwa hubungan antara stimulus dan respon cenderung hanya bersifat sementara, oleh sebab itu dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberikan stimulus agar hubungan antara stimulus dan respon bersifat lebih tetap. Ia juga mengemukakan, agar respon yang muncul sifatnya lebih kuat dan bahkan menetap, maka diperlukan berbagai macam stimulus yang berhubungan dengan respon tersebut. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu merubah kebiasaan dan perilaku seseorang. Namun setelah Skinner mengemukakan dan mempopulerkan akan pentingnya penguatan (reinforcemant) dalam teori belajarnya, maka hukuman tidak lagi dipentingkan dalam belajar.
5.      Teori Belajar Menurut Skinner
Konsep-konsep yang dikemukakan oleh Skinner tentang belajar mampu meng-ungguli konsep-konsep lain yang dikemukakan oleh para tokoh sebelumnya. Ia mampu menjelaskan konsep belajar secara sederhana, namun dapat menunjukkan konsepnya tentang belajar secara lebih komprehensif. Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dalam lingkungannya, yang kemudian akan menimbulkan perubahan tingkah laku, tidaklah sesederhana yang digambarkan oleh para tokoh sebelumnya. Dikatakannya bahwa respon yang diberikan oleh seseorang/siswa tidaklah sesederhana itu. Sebab, pada dasarnya stimulus-stimulus yang diberikan kepada seseorang akan saling berinteraksi dan interaksi antara stimulus-stimulus tersebut akan mempengaruhi bentuk respon yang akan diberikan. Demikian juga dengan respon yang dimunculkan inipun akan mempunyai konsekuensi-konsekuensi. Konsekuensi-konsekuensi inilah yang pada gilirannya akan mempengaruhi atau menjadi pertimbangan munculnya perilaku. Oleh sebab itu, untuk memahami tingkah laku seseorang secara benar, perlu terlebih dahulu memahami hubungan antara stimulus satu dengan lainnya, serta memahami respon yang mungkin dimunculkan dan berbagai konsekuensi yang mungkin akan timbul sebagai akibat dari respon tersebut.
Menurut  Andriyani (2015) penerapan teori belajar Behavioristik tergantung dari tujuan pembelajaran, mudah sukarnya materi, karakteristik pembelajaran, fasilitas dan media pembelajaran. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah tersusun secara rapi, sehingga belajar merupakan perolehan pengetahuan.
Langkah-langkah pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh siciati dan prasetia irawan (2001) dapat digunakan dalam merancang pembelajaran. Langkah-langkah tersebut meliputi:
1.      Menentukan tujuan-tujaun pembelajaran.
2.      Menagnalisis lingkungan kelas yang ada.
3.      Menentukan materi pembelajaran
4.      Memecah materi pelajaran menjadi kecil-kecil.
5.      Menyajikan materi pelajran.
6.      Memberikan stimulus.
7.      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
8.      Memberikan penguatan (penguatan positif ataupun penguatan negatif), ataupun          hukuman.
9.      Memberikan stimulus baru.
10.  Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
13.     Evaluasi hasil belajar
Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah tersusun secara rapi, sehingga belajar merupakan perolehan pengetahuan. Sementara mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Jadi pembelajar diharapkan mendapat pengetahuan yang sama dari orang yang mengajar. Pola berpikir utama siswa adalah copy-paste terhadap yang diajarkan guru. Menurut Andriyani (2015) Implikasi dari teori behavioristik dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi siswa untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya siswa kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
DAFTAR RUJUKAN
Andriyani, F. 2015. Eori Belajar Behavioristik Dan Pandangan Islam Tentang Behavioristik. Jurnal Pendidikan dan Pranata Islam, (Online), 10(2), (ejournal.kopertais4.or.id/index.php/syaikhuna/), diakses 5 Februari 2017.

Hardianto, D. 2015. Paradigma Teori Behavioristik Dalam Pengembangan Multimedia Pembelajaran. Jurnal Pendidikan. (Online), 1(1), (http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/penelitian/deni-hardianto-mpd/penerapan-teori-behavioristik), diakses 5 Februari 2017.